Image default
Crypto

Jangan Mau Ditipu, Kenali Investasi Crypto Yang Benar !

Beberapa tahun belakangan ini kita sering sekali mendengar tentang crypto dan bitcoin. Sepanjang tahun 2021 ini saja sering didapati trending topik di Twitter #crypto. Malah beberapa selebtwit seringkali membandingkan investasi crypto dengan investasi saham. Ditambah lagi dengan cuitan Elon Musk di Twitter yang konon bisa mempengaruhi harga crypto. Lalu apa sebenarnya crypto? Apakah crypto bisa dijadikan pilihan investasi  yang menguntungkan? Untuk menjawabnya terlebih dahulu kita harus mengenal investasi crypto.

Baca Juga: Dapat Cuan Dengan 5 Teknik Crypto Trading Bagi Pemula

Crypto Adalah

Crypto adalah kependekan dari Cryptocurrency atau biasa disebut sebagai mata uang digital. Karena digital, jadi crypto tidak memiliki bentuk fisik seperti halnya uang kertas atau uang logam. Seperti halnya saat kita transfer uang lewat ATM, kita tidak perlu memindahkan uang fisik bukan? Seperti itulah crypto di transfer melalui jaringan online.

Namun tidak seperti mata uang atau forex, crypto tidak diterbitkan oleh suatu negara dan tidak memiliki regulator Bank sentral seperti halnya Indonesia memiliki Bank Indonesia yang mengatur sirkulasi mata uang rupiah.

Investasi Crypto dengan mengenal macam-macam Crypto

Bitcoin adalah mata uang crypto pertama yang diperkenalkan oleh seorang developer bernama Satoshi Nakamoto pada Oktober 2008 dan pertama kali ditambang pada Oktober 2009. Jadi sebenarnya Crypto adalah teknologinya sedangkan Bitcoin, Ethereum, Dogecoin dan lain-lain adalah jenis mata uang atau nama-nama koin yang dihasilkan dari teknologinya. Sementara keberadaan teknologi cryptocurrency sendiri ditopang oleh teknologi blockchain.

Cara Menambang Bitcoin

Cara untuk mendapatkan bitcoin adalah dengan ditambang (mining). Namun menambang bitcoin bukan seperti tambang emas atau logam mulia lainnya, yang membutuhkan alat berat untuk menggali tanah. Menambang  bitcoin dilakukan dengan komputer bertenaga tinggi dan memecahkan masalah matematika yang kompleks. Biasanya penambang (miner) bitcoin banyak menggunakan VGA (Video Graphics Array) sebagai alatnya.

Jadi ada dua tahap menambang bitcoin. Tahap pertama adalah memecahkan soal matematika yang rumit yang dilakukan oleh komputer. Tahap kedua adalah komputer memproduksi bitcoin baru ke dalam jaringan (network) yang selanjutnya memverifikasi transaksinya. Saat ini diperkirakan sudah ada 18,5 juta bitcoin yang telah ditambang. Sementara jumlah total keseluruhan bitcoin sendiri ada 21 juta. Karena jumlahnya terbatas dan permintaan semakin meningkat maka harga bitcoin mengalami kenaikan cukup signifikan.

Kenaikan Harga Bitcoin

Saat pertama kali ada di jaringan pada 2009, harga bitcoin masih 0 (nol). Barulah pada 2011 harga bitcoin menyentuh satu 1 USD beberapa platform seperti Wikileaks mulai menerima bitcoin sebagai pembayaran. Di 2013 Coinbase membukukan penjualan sebanyak satu juta dollar Bitcoin pada harga $22 per Bitcoin.

Harga Bitcoin terus meningkat seiring dengan banyaknya perusahaan dan platform yang menerima. Pada 2013 Bitcoin naik ke angka  $1,249  per koin. Di tanggal 17 Desember 2017 bitcoin mencapai level $19,783 satu koinnya lalu 16 hari kemudian harganya jatuh ke $7,000.

Karena harga Bitcoin yang  turun naik dengan cepat atau biasa disebut dengan volatilitas yang tinggi, banyak pihak terutama investor senior menyebut Investasi Crypto atau Investasi dalam bentuk bitcoin sebagai bubble economy.

Seperti halnya balon yang ditiup, akan cepat besar lalu pada suatu titik pecah. Hal ini disebut dengan bubble crash. Bitcoin crash terjadi sepanjang 2018 dan mencapai harga di bawah $3,000.

Di 2020 harga bitcoin mencatat rekor  $19,850, harga tersebut naik terus ke angka $41,973. Di 2021 harga bitcoin crash ke angka $33,400 di Januari. Karena volatilitas yang tinggi sehingga benyak menghasilkan jutawan dadakan banyak orang mulai meilirik investasi Crypto. Sentimen ini ditambah dengan keadaan ekonomi selama pandemi yang membuat banyak orang di PHK dan kerja di rumah, sehingga melihat investasi crypto sebagai hal yang bisa dilakukan di rumah untuk menambah kekayaan.

Pada Februari 2021 Elon Musk mengumumkan investasi Tesla pada Bitcoin, Bitcoin naik menyentuh angka $50,000 dan terus ke $60,000 setelah Coinbase mengumumkan IPO (Initial Public Offering) atau melantai di bursa saham. Bitcoin kembali mengalami crash pada Mei 2021 ke level $30,000 setelah twit Elon Musk yang mempersoalkan energi yang dihabiskan oleh penambangan Bitcoin. Setelah itu Elon juga membuat twit mengisyaratkan Tesla tidak menerima cryptocurrency sebagai pembayaran Tesla. Selain itu bubble crash cryptocurrency pada 2021 juga disebabkan oleh Tiongkok melarang aktivitas Cryptocurrency.

Masalah Regulator

Dengan tidak adanya regulator sentral seperti halnya Bank Indonesia atau The FED di Amerika Serikat, harga dari sebuah cryptocurrency hanya dipengaruhi oleh permintaan pasar. Permintaan pasar dipengaruhi oleh sentiment pasar, karena itu tidak heran bila volatilitas cryptocurrency begitu tinggi, bahkan lebih tinggi daripada forex.

Karena itulah investasi crypto merupakan investasi yang berisiko sangat tinggi. Karena harga suatu koin bisa naik atau bahkan turun drastis dalam hitungan jam. Penyebabnya pun bisa berbagi macam, mulai karena twit orang – orang berpengaruh seperti Elon Musk ataupun karena pengumuman  suatu projek  oleh suatu negara atau perusahaan besar multinasional.

Bitcoin Di Indonesia

Di Indonesia sendiri keberadaan crypto mulai ada sejak ada bitcoin.co.id  pada 2014 yang kemudian berubah nama menjadi Indodax di tahun 2018.  Sehingga untuk melakukan investasi crypto bisa melakukan deposit dengan rupiah, tidak perlu menukarnya dengan Dollar Amerika Serikat lagi.  Di Indonesia sendiri perdagangan aset crypto diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi  (Bappebti).

Pada 2020 ada 13 platform crypto yang secara legal terdaftar di Bappebti. Di Indonesia aset crypto hanya bisa diperdagangkan di platform atau bursa berjangka dan bukan untuk transaksi jual beli seperti halnya penggunaan uang kertas atau logam rupiah. Artinya di Indonesia crypto adalah aset atau alat investasi untuk diperjualbelikan  bukan sebagai mata uang untuk nilai tukar.

Investasi Crypto

Untuk orang awam yang ingin mencoba investasi crypto tentunya banyak hal yang menjadi pertanyaan, apalagi bila tidak memiliki dasar pengetahuan teknologi. Seringnya orang membandingkan crypto dengan aset serupa saham dan forex. Saham sendiri merupakan surat berharga yang menandakan kepemilikan modal atas suatu perusahaan, sementara forex adalah mata uang suatu negara.

Sedangkan crypto adalah suatu aset digital tak berwujud fisik, sama halnya ketika seseorang membeli suatu software atau piranti lunak seperti Microsoft office atau Adobe. Kepemilikan crypto pun bisa dilihat di wallet atau dompet digital. Ketika kamu mendaftarkan akun pada sebuah platform crypto seperti contohnya Coinbase atau Indodax, maka kamu akan memiliki dompet digital untuk menyimpan aset crypto kamu.

Baca Juga: Forex vs Crypto, Kira-kira Mana yang Paling Cuan?

Karena volatilitasnya yang tinggi banyak orang yang bisa mendadak kaya bahkan jatuh miskin dalam sekejap saat berinvestasi crypto. Karena itu dibutuhkan pengetahuan mendasar mengenai cryptocurrency. Selain itu, karena popularitasnya semakin tinggi banyak penipuan berkedok  investasi crypto yang menjanjikan keuntungan fantastis dalam waktu yang singkat. Karena itu akan sangat lebih baik apabila investasi crypto dilakukan langsung secara pribadi, dalam keadaan sadar, tanpa tekanan dan telah mengetahui risiko-risikonya.

Related posts

Dapat Cuan Dengan 5 Teknik Crypto Trading Bagi Pemula